Wujudkan Ketahanan Keluarga, Pakar IPB University Dorong Lebih Banyak Pekerjaan Ramah Keluarga

Maraknya permasalahan keluarga terutama di tengah pandemi, satu diantaranya dapat disebabkan oleh faktor ekonomi. Mulai dari pekerjaan yang sulit hingga menurunnya pendapatan. Prof Euis Sunarti, Guru Besar IPB University dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia dengan bidang khusus Ketahanan Keluarga, dalam wawancaranya mengutarakan gagasannya yang dapat menjadi upaya mewujudkan ketahanan keluarga.

“Buku Orasi Guru Besar saya pada tahun 2015 dengan judul “Ketahanan Keluarga: Dari Kebijakan dan Penelitian Menuju Aksi”, menguraikan rangkaian penelitian terkait keluarga yang saya lakukan selama 17 tahun. Riset ini ternyata membangkitkan rekomendasi kebijakan penting bagi para pihak yang terlibat dalam pembangunan keluarga. Yaitu pentingnya membangun wilayah dan mendorong pekerjaan ramah keluarga,” terangnya.

Yang dimaksud Prof Euis dengan pembangunan Wilayah Ramah Keluarga yaitu upaya pembangunan yang dilakukan berbagai pihak di berbagai bidang, sejak penetapan kebijakan dan program, perencanaan dan pelaksanaanya mempertimbangkan keluarga. Pembangunannya juga menjadikan suatu wilayah memiliki kapasitas daya dukung alam dan daya tampung lingkungan yang tinggi serta sarana prasarana infrastruktur yang memungkinkan keluarga dapat memperoleh mata pencaharian yang mensejahterakan dan meningkatkan ketahanan keluarga. Sementara yang dimaksud dengan pekerjaan ramah keluarga adalah aktivitas pencarian nafkah, sebagai fungsi ekonomi keluarga, yang masih memungkinkan keluarga tetap memenuhi fungsi keluarga lainnya.

Baca Juga :  Mahasiswa Baru ITS Ditantang untuk Berkreasi dalam OKKBK

Dalam penjelasannya, Prof Euis menerangkan bahwa dalam membangun wilayah ramah keluarga dapat mencakup provinsi, kabupaten, kecamatan, maupun keluruhan/desa. Tujuannya agar tatanan keluarga dapat betah untuk tinggal, dalam keadaan sumber nafkah yang tidak jauh, akses kerja yang tidak perlu menghadapi macetnya transportasi.

“Ketidakefektifan waktu bekerja yang disertai waktu macet, secara tidak langsung berdampak pada fungsi mengasuh anak, fungsi cinta kasih, fungsi pendidikan dan fungsi perlindungan menjadi terabaikan. Hal ini karena kepala keluarga atau bahkan suami istri bekerja full time untuk satu fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi lain cenderung terabaikan,” ujarnya.

Gagasan Prof Euis ini merupakan hasil meta analisis bagaimana membangkitkan kebijakan yang ideal bagi keluarga agar berketahanan. “Ternyata, adanya pandemi ini, sebagai sesuatu yang tidak kita sukai, suatu yang tidak kita inginkan, mendatangkan juga berbagai kenelangsaan, gangguan kehidupan. Dari sini justru ada hikmah lain, yang itu saya bahas dalam buku tulisan saya yang berjudul Ketahanan Keluarga Di Masa COVID-19 yang dicetak oleh IPB Press,” tambah Prof Euis.

Baca Juga :  DUKUNG PEMERINTAH: UNESA LIBATKAN MAHASISWA MENJADI DUTA PERUBAHAN PERILAKU TERBANYAK SE-INDONESIA

Hikmah tersebut yaitu banyaknya pekerjaan yang ramah keluarga, yaitu pekerjaan-pekerjaan yang tidak menghabiskan seluruh waktu keluarga untuk bekerja mencari nafkah. Pencari nafkah atau kepala keluarga masih punya sisa waktu yang memadai untuk fungsi pendidikan, fungsi bersosialisasi fungsi kontribusi di masyarakat dan sebagainya. Contohnya seperti webinar dari rumah dan rapat dari rumah. Dengan demikian, menurut Prof Euis, mindset yang harus diubah pada saat ini adalah bahwa bekerja itu tidak harus selalu di kantor. 

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
62 Views

Terimakasih telah mengunjungi laman Dikti, silahkan mengisi survei di bawah untuk meningkatkan kinerja kami

Berikan penilaian sesuai kriteria berikut :

  • 1 = Sangat Kurang
  • 2 = Kurang
  • 3 = Cukup
  • 4 = Baik
  • 5 = Sangat Baik
x