Hikmah Pandemi, Kampus Cepat Adaptif dalam Penggunaan Teknologi dan Metode Pembelajaran

Siaran Pers
Nomor : 52/Sipers/V/2020

Jakarta – Pandemi Covid-19 menuntut sektor pendidikan untuk berbenah melakukan berbagai inovasi dan adaptasi demi keberlangsungan proses pembelajaran. Instruksi presiden dan Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait belajar dari rumah ditindaklanjuti oleh kampus dengan melaksanakan pembelajaran dari rumah baik secara sinkronis maupun asinkronis. Hal ini disampaikan oleh plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nizam pada diskusi daring Belajar dari Dunia Mengatasi COVID-19 dengan tema “Wajah Pendidikan Kita: Kini dan Masa Depan Pasca COVID-19” yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP-GMNI) pada Kamis (7/5).

Nizam memaparkan bahwa pola pembelajaran daring telah didorong untuk diterapkan di kampus pada era tahun 2000 an melalui berbagai platform. Namun demikian belum banyak kampus yang mengaplikasikan pembelajaran daring dalam proses pembelajaran. Pembelajaran daring menemukan momentum saat pandemi Covid-19 ini. “Saat pandemi ini, hampir seluruh kampus melaksanakan pembelajaran daring. Menurut survei yang dilakukan April lalu, 95% perguruan tinggi melaksanakan pembelajaran daring,” ungkap Nizam.

Lebih lanjut Nizam menjelaskan untuk memfasilitasi pembelajaran daring, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menyediakan plaform pembelajaran daring SPADA yang dapat digunakan secara bersama-sama, terutama untuk kampus-kampus yang belum memiliki Learning Management System (LMS) untuk pelaksanaan proses pembelajaran daring. Saat ini di dalam SPADA terdapat 244 perguruan tinggi yang berbagi modul perkuliahan dan lebih dari 30.000 konten yang dapat digunakan dalam pembelajaran daring.

Nizam melihat saat ini pelaksanaan pembelajaran daring di kampus berjalan dengan lebih efisien. Di awal pelaksanaan pembelajaran daring memang sempat ditemui kegamangan namun seiring berjalannya waktu, dosen dan mahasiswa cepat beradaptasi. Dosen dalam penyampaian materi pembelajaran yang awalnya sinkronis dengan menggunakan aplikasi pertemuan daring saat ini telah memadukan dengan metode-metode asinkronis. Sehingga penggunaan bandwith internet pun lebih efisien.

Terkait antisipasi jika pandemi Covid-19 melebihi jangka waktu yang diperkirakan, Nizam menyatakan telah menyiapkan beberapa skenario antisipasi. Namun demikian Nizam menegaskan tidak perlu menyiapkan kurikulum darurat. Perguruan tinggi dapat memanfaatkan teknologi untuk proses pembelajaran daring. “Tidak perlu kurikulum darurat. Tinggal bagaimana perguruan tinggi memanfaatkan teknologi secara efektif dan efisien untuk pelaksanaan pembelajaran daring baik secara sinkronis maupun asinkronis,” tegas Nizam.

Sejalan dengan Nizam, Rektor UNS Jamal Wiwoho menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 ini telah mendisrupsi tridharma perguruan tinggi. Dalam bidang pendidikan, Jamal mencontohkan adanya pergeseran luar biasa. Proses pembelajaran yang pada saat sebelum pandemi banyak dilakukan dengan metode tatap muka secara langsung, saat ini dilakukan secara daring. Bahkan prosesi wisuda di UNS pun telah dilakukan secara daring. Pembelajaran juga dapat dilakukan dengan berbasis proyek (Project Base Learning) dan rekognisi SKS. Hal ini menurut Jamal sesuai dengan implementasi kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka yang diluncurkan Mendikbud pada awal tahun lalu.

Selain itu, Jamal Wiwoho yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) ini menegaskan belum ada rencana perubahan kalender akademik. Tahun akademik baru 2020/2021 akan dimulai sekitar bulan Agustus mendatang.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi X DPR-RI Hetifah Sjaifudian mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam turut serta menangani wabah Covid-19. Hetifah melihat bahwa perguruan tinggi sangat luwes dan adaptif dalam menghadapi pandemi Covid-19. Ia mengapresiasi inovasi-inovasi pembelajaran daring yang dilakukan kampus.

Namun demikian, Hetifah mengingatkan bahwa dalam pelaksanaan pembelajaran daring perlu adanya pendekatan-pendekatan khusus untuk daerah 3T. Hal ini mengingat belum meratanya sarana dan prasarana serta infrastruktur di daerah 3T tersebut. “Jangan sampai pendekatan pembelajaran daring ini justru menimbulkan kesenjangan sosial baru. Untuk itu perlu sentuhan khusus untuk daerah 3T,” saran Hetifah. (YH/DZI/MSF)

Humas Ditjen Dikti
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Please follow and like us:
39

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *