Diskusi Publik BEM Fakultas Farmasi UI “Vaksinasi Covid-19: Apakah Keamanannya Terjamin?”

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) mengadakan diskusi publik bertajuk “Vaksinasi Covid-19: Apakah Keamanannya Terjamin?”. Tema ini diangkat untuk membahas proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia, baik efektivitas dan keamanan vaksin maupun kebijakan pemerintah terkait proses vaksinasi yang diragukan sebagian pihak. Selain itu, karena adanya berita hoaks dan miskonsepsi tentang vaksin Covid-19 yang beredar, sehingga membuat sebagian masyarakat khawatir untuk divaksin.

Acara diawali dengan sambutan oleh Ilham Qurrota A’yun (Project Officer), M. Hibban Arasy (Ketua BEM FF UI 2021), dan Dr. apt. Mahdi Jufri, M.Si. (Dekan FFUI). Acara diskusi publik tersebur dipimpin oleh Jessica Tumonglo selaku moderator dan terdiri dari dua pembicara, yaitu Dr. apt. Lucia Rizka Andalusia, M.Pharm, MARS. (Direktur Registrasi Obat dan Juru Bicara Covid-19 BPOM) dan dr. Panji Hadisoemarto, MPH. (kolaborator ahli Lapor Covid-19).

Dekan FFUI mengatakan bahwa saat ini sebagian besar dosen dan tenaga administrasi UI telah melakukan vaksinasi. Menurutnya, vaksin di Indonesia dikontrol oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sehingga tentu sudah dilaksanakan uji klinis serta keamanan dari vaksin Covid-19 ini. “Tidak mungkin jika tidak aman dan dapat beredar. Masyarakat jangan khawatir, juga disarankan untuk tidak mudah percaya pada hoaks tentang vaksin Covid-19. Kami menyambut gembira diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh BEM FFUI dengan mengundang para pembicara yang kompeten di bidangnya,” ujar Mahdi memberikan tanggapan positif.

Baca Juga :  ISI Padangpanjang dan Pemerintahan Kota Padang Bersinergi Menuju Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Sesi pertama diisi pemaparan materi oleh Lucia Rizka Andalusia tentang “Penyiapan dan Keamanan Vaksin”. Ia menjelaskan bahwa BPOM RI terus melakukan pengawasan yang ketat terhadap vaksin untuk menjamin mutu, khasiat, dan keamanannya. Hal ini dibuktikan melalui pengawasan dari tahap pre-market hingga tahap post-market terhadap vaksin Covid-19. Selain itu, pada kondisi darurat seperti pandemi Covid-19, BPOM RI juga memberikan Emergency Use Authorization (EUA) melalui kriteria-kriteria penting yang harus dipenuhi. Tim BPOM RI bersama Komnas Penilai Khusus Vaksin Covid-19 mempertimbangkan manfaat pemberian vaksin pada seseorang harus lebih besar daripada risiko yang terjadi jika yang bersangkutan tidak divaksinasi. BPOM RI juga melakukan pengawasan keamanan vaksin melalui farmakovigilans berupa aktivitas surveilans Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Melalui pemaparan materi ini, seluruh elemen masyarakat diimbau untuk mempercayai kredibilitas BPOM RI dalam mengawasi keamanan vaksin Covid-19.

Pembicara pada sesi kedua, dr. Panji Hadisoemarto, MPH., memaparkan  tentang “Fakta Lapangan Vaksinasi Covid-19”. Ia menjelaskan bahwa sejatinya tidak ada vaksin yang 100% aman, tetapi yang patut dipertimbangkan adalah seberapa berat dan seberapa sering efek samping dari suatu vaksin tersebut. Selain itu, vaksinasi juga dibandingkan dengan kondisi pasien  pabila tidak diberikan vaksin justru mengalami penyakit Covid-19 yang sangat berat dengan tingkat kematian yang tinggi.

Baca Juga :  Hadiri P4G Seoul Summit, Dosen HI UNAIR Suarakan Gerakan Zero Waste

Berdasarkan data Randomized Controlled Trial yang dipaparkan oleh dr. Panji, ditemukan bahwa hanya gejala apapun yang timbul pasca vaksinasi dan nyeri pada tempat penyuntikan yang memiliki hubungan signifikan secara statistik. Pada kasus efek samping Guillain Barre Syndrome, dr. Panji menyebutkan bahwa tidak ada mekanisme biologis dari Guillain Barre Syndrome dan vaksin Covid-19 sehingga penyebab efek samping perlu untuk ditelusuri lebih lanjut. Melalui sesi pemaparan materi ini, mahasiswa kesehatan diimbau untuk menyampaikan kepada publik tentang kompleksitas keamanan vaksin dan meyakinkan masyarakat agar dapat memiliki persepsi yang benar terkait vaksin Covid-19.

Acara diskusi publik diakhiri dengan sesi tanya-jawab dari peserta kepada para narasumber. Sesi tanya jawab berlangsung secara kondusif, kritis, dan terbuka. Selain itu, terdapat pengumuman pemenang games dari rangkaian games yang telah dibuat sebelumnya. Kesimpulan dari diskusi publik ini adalah masyarakat diharapkan tetap terbuka dan kritis terhadap informasi terkait keamanan vaksin Covid-19. Mahasiswa dan tenaga kesehatan juga memiliki peran penting sebagai sumber informasi bagi masyarakat dalam menyampaikan dan meluruskan miskonsepsi terkait vaksin Covid-19, sehingga vaksinasi Covid-19 di Indonesia dapat berjalan dengan lancar.

Diskusi publik ini diadakan secara daring pada Sabtu (8/5) melalui aplikasi telekonferensi Zoom dan disiarkan secara langsung melalui Youtube BEM FFUI.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
623 Views

Terimakasih telah mengunjungi laman Dikti, silahkan mengisi survei di bawah untuk meningkatkan kinerja kami

Berikan penilaian sesuai kriteria berikut :

  • 1 = Sangat Kurang
  • 2 = Kurang
  • 3 = Cukup
  • 4 = Baik
  • 5 = Sangat Baik
x