MBKM Mandiri Dinilai Efektif Mengajarkan Keberagaman Budaya

[PADANG] Pelaksanaan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), khususnya pertukaran mahasiswa, dinilai mampu menyadarkan mahasiswa tentang betapa beragamnya budaya Bangsa Indonesia. Pandangan tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas PGRI Sumatera Barat, Ansofino, dalam rangkaian acara Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Akselerasi MBKM Mandiri di Padang, Sumatera Barat pada 26-27 September 2023.

Acara Sosialisasi dan Bimbingan Teknis ini diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerjasama dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah X dan Kampus Merdeka Mandiri (KMM). Sosialisasi dan Bimtek ini diikuti oleh 72 peserta secara luring dan 160 peserta secara daring. Para peserta hadir mewakili perguruan tinggi yang tersebar di provinsi Sumatera Barat, Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau.

“Program pertukaran mahasiswa adalah sarana yang sangat baik bagi kaum muda untuk mengenal keberagaman negeri kita. Mahasiswa inbound bisa dengan lebih jelas dan lebih baik mengenal budaya Minang, dan sebaliknya dalam program outbound mahasiswa Minang bisa belajar hal-hal yang berbeda di luar,” kata Ansolfino ketika memberikan kata sambutan.

Program sosialisasi dan bimbingan teknis itu merupakan bagian dari program sosialisasi MBKM Mandiri di 16 wilayah Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) di seluruh Indonesia, menghadirkan para pakar kurikulum dari Kemendikbudristek tim Kampus Merdeka Mandiri.

Rangkaian kegiatan ini diselenggarakan untuk mendorong perguruan tinggi di seluruh Indonesia agar mengadopsi program MBKM secara mandiri di perguruan tinggi masing-masing, memanfaatkan sumberdaya yang ada, tanpa bergantung pada pembiayaan pemerintah.

MBKM adalah inovasi yang dilahirkan oleh Kemendikbudristek untuk mentransformasi pendidikan tinggi di Indonesia untuk menciptakan lulusan yang lebih relevan dengan konteks lingkungan dan zamannya. Untuk mencapai tujuan itu, perguruan tinggi membutuhkan banyak mitra yang bisa membantu memberikan bekal non-akademik seperti aneka keterampilan praktis dan soft skills. Para pihak mitra yang dimaksud antara lain dari sektor pemerintahan, sektor bisnis, dan organisasi sosial.

Dalam kesempatan itu Kepala LLDikti Wilayah X, Afdalisma, mendorong para pengelola perguruan tinggi di seluruh Wilayah Layanan LLDikti X untuk benar-benar mampu mengembangkan kurikulum MBKM, agar mampu menjadi perguruan tinggi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Kita harus menyiapkan lulusan yang relevan, yang mampu berperan pada tercapainya visi besar bangsa, yakni Visi Indonesia Emas 2045,” kata Afdalisma.

Pada tempat yang sama, Koordinator Pembelajaran Ditbelmawa Kemendikbudristek, Dewi Wulandari, mengingatkan bahwa Kemendikbudristek terus mengawal semangat kemerdekaan dalam MBKM.

“Permen 53 tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu PT memperlihatkan semangat itu. PT didorong untuk memaksimalkan program MBKM sehingga memperluas kesempatan mahasiswa untuk belajar di luar kampus,” kata Dewi.

Sementara itu Dessy Aliandrina, Kepala Bidang Kampus Merdeka Mandiri pada Pelaksana Pusat Kampus Merdeka (PPKM), mengatakan ke depan MBKM Mandiri akan menjadi praktik yang normal pada 2024.

“Para pengelola perguruan tinggi sudah melihat pentingnya MBKM untuk meningkatkan relevansi lulusan dan relevansi perguruan tinggi. Karena itu KMM optimistis, MBKM Mandiri tidak akan lagi dipersepsi sebatas sebagai program, tetapi justru menjadi gerakan yang terus bergulir,” kata Dessy.

Dessy optimistis bahwa dengan MBKM tujuan relevansi akan lebih mudah tercapai, terutama karena MBKM adalah inovasi sistem pendidikan yang berbasis konteks setempat, dilaksanakan dengan perencanaan yang baik, termasuk dengan melibatkan banyak pihak, dan menempatkan dampak sebagai ukuran keberhasilan. 

Acara sosialisasi nasional MBKM Mandiri terdiri dari tiga kegiatan utama, yakni sosialisasi, bimbingan teknis, dan dialog antar pemangku kepentingan (multistakeholder dialogue – MSD). Sosialisasi bertujuan agar perguruan tinggi memahami seluruh seluk-beluk MBKM. Bimbingan teknis bertujuan untuk membantu perguruan tinggi mampu merancang kurikulum MBKM. Sedangkan MSD bertujuan untuk mempertemukan perguruan tinggi dengan para mitra dan calon mitra untuk ber-MBKM.

“Karena perbedaan kondisi lapangan, maka isi kegiatan sosialisasi di setiap LLDikti juga tidak sama. Di sejumlah LLDikti Sosialisasi digabungkan dengan Bimbingan Teknis, sedang di sejumlah yang lain digabungkan dengan MSD,” tutur Dessy.

Secara umum acara sosialisasi akan menjelaskan berbagai macam hal tentang MBKM, terutama alasan mengapa perguruan tinggi perlu menjalankan MBKM. Acara sosialisasi juga akan diperkaya dengan sharing praktik baik dari perguruan tinggi yang sudah melaksanakan MBKM secara mandiri.

Sementara itu acara bimbingan teknis akan fokus pada relaksasi kurikulum dan bagaimana mendesain kurikulum MBKM. Relaksasi kurikulum diperlukan untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi perguruan tinggi untuk mendesain kurikulum yang lebih merdeka dan lebih sesuai dengan konteks setempat. Relaksasi juga diperlukan untuk memberi ruang bagi perguruan tinggi untuk menjalin kolaborasi dengan pihak lain, baik sesama perguruan tinggi maupun organisasi-organisasi di luar perguruan tinggi.
(YH/DZI/FH/DH/NH/SH/MSF)

Baca Juga :  Kampus Mengajar Angkatan 1 Selesai, Mahasiswa Tuai Pengalaman dan Keterampilan selama Mengabdi

Humas Ditjen Diktiristek
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Laman : www.diktiristek.kemdikbud.go.id
FB Fanpage : @ditjen.dikti
Instagram : @ditjen.dikti
Twitter : @ditjendikti
Youtube : Ditjen Diktiristek
E-Magz Google Play : Satu Dikti
Tiktok : Ditjen Dikti

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
696 Views